Talent Is Overrated #7: Inovasi Bukan Kilatan Ilham

Bak Mandi Archimedes
Hampir semua dari kita mengenal kisah ini sejak sekolah. Archimedes masuk ke bak mandi, melihat air meluap, lalu menyadari bahwa volume benda yang bentuknya tidak beraturan bisa diukur dari air yang dipindahkannya. Ia melompat keluar dan berlari telanjang di jalanan sambil berteriak, "Eureka!"
Ada kisah-kisah serupa. Abraham Lincoln konon menulis pidato Gettysburg yang terkenal itu di atas amplop, dalam perjalanan kereta menuju medan perang. Penyair Samuel Taylor Coleridge mengaku terbangun dari tidur dengan dua sampai tiga ratus baris puisi Kubla Khan sudah tersusun utuh di kepalanya.
Kisah-kisah ini membentuk keyakinan yang sangat kuat tentang kreativitas: ide besar datang seperti petir, tiba-tiba dan tanpa diduga, kepada orang-orang yang istimewa. Di bab kesembilan, Colvin menguji keyakinan itu dengan bukti yang sama yang ia pakai di bab-bab sebelumnya.
Mengapa Inovasi Kini Menjadi Keharusan
Sebelum masuk ke sana, Colvin menjelaskan mengapa pertanyaan ini penting bagi dunia bisnis. Di era digital, apa pun yang bisa dibandingkan akan dibandingkan, dan apa pun yang bisa dibandingkan secara langsung akan menjadi komoditas yang bersaing hanya lewat harga. Bentuk paling brutalnya adalah lelang terbalik: pembeli mengundang beberapa pemasok, lalu memberi mereka waktu satu jam untuk saling menurunkan harga. Cara ini kini dipakai bukan hanya untuk barang, tapi juga jasa bernilai tinggi, termasuk jasa hukum.
Satu-satunya jalan keluar dari jebakan itu adalah menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Masalahnya, umur sebuah inovasi juga makin pendek. Wrigley bisa menjual tiga rasa permen karet yang sama selama lima puluh sembilan tahun. Motorola sebaliknya, berganti-ganti dari pelopor ponsel menjadi pecundang, lalu bangkit lagi lewat RAZR, sebelum akhirnya melepas bisnis ponselnya. Seorang konsultan bahkan mengatakan banyak perusahaan kini harus menciptakan model bisnis baru setiap tiga atau empat tahun.
Dua Keyakinan yang Keliru
Menurut Colvin, ada dua hal yang kita yakini tentang kreativitas, padahal keduanya keliru. Yang pertama adalah kisah-kisah eureka tadi. Yang kedua adalah anggapan bahwa terlalu banyak pengetahuan justru menghambat kreativitas. Kita sering mendengar ungkapan bahwa seseorang terlalu dekat dengan masalahnya sehingga tidak bisa melihat jalan keluar.
Keyakinan kedua ini sekilas didukung bukti. Western Union tidak menemukan telepon, dan IBM tidak menemukan komputer pribadi, padahal keduanya paling menguasai bidangnya masing-masing. Dean Keith Simonton meneliti lebih dari tiga ratus tokoh kreatif yang lahir antara tahun 1450 dan 1850, dan menemukan bahwa yang paling terkemuka justru mereka yang pendidikan formalnya sedang-sedang saja, kira-kira setara pertengahan kuliah. Dalam eksperimen terkenal Abraham dan Edith Luchins, orang yang sudah terbiasa memecahkan soal takaran air dengan satu cara tertentu gagal melihat cara yang jauh lebih sederhana, sementara orang yang belum pernah mempelajari cara lama itu langsung melihatnya.
Tapi Colvin menunjukkan bahwa bukti yang lebih luas justru mengarah ke kesimpulan sebaliknya.
Sepuluh Tahun dalam Diam
Profesor John Hayes dari Carnegie Mellon University meneliti tujuh puluh enam komponis dari berbagai zaman dan lebih dari lima ratus karya penting mereka. Dari semua karya itu, hanya tiga yang diciptakan sebelum tahun kesepuluh karier sang komponis, dan ketiganya pun lahir di tahun kedelapan dan kesembilan. Hayes menyebut masa persiapan panjang itu "sepuluh tahun dalam diam". Ia menemukan pola serupa pada pelukis, dengan masa persiapan sekitar enam tahun. Bahkan Picasso, yang sering dianggap anak ajaib, tidak luput dari pola itu.
Howard Gardner dari Harvard meneliti tujuh inovator terbesar awal abad kedua puluh, dari Einstein, Freud, dan Gandhi sampai Picasso dan Stravinsky. Ia tidak sedang mencari bukti tentang lamanya persiapan, tapi di kesimpulannya ia mengaku terus-menerus menemukan aturan sepuluh tahun bekerja pada mereka semua.
The Beatles pun begitu. Mereka sudah tampil bersama ribuan jam sebelum dunia mengenal mereka, kebanyakan membawakan lagu orang lain. Lagu-lagu ciptaan mereka di masa awal biasa saja. Lagu pertama mereka yang menjadi nomor satu ditulis setelah Lennon dan McCartney bekerja bersama selama lima setengah tahun. Album-album yang benar-benar mengubah musik populer, seperti Rubber Soul, Revolver, dan Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band, baru lahir setelah sepuluh tahun mereka bekerja keras bersama.
Colvin merangkum pola ini dalam satu kalimat:
Inovasi besar ibarat bunga mawar yang mekar setelah melalui proses perawatan yang panjang dan cermat.
Pengetahuan yang Menyuburkan
Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa terlalu banyak pengetahuan menghambat kreativitas? Colvin mengangkat salah satu penemuan ilmiah paling terkenal abad kedua puluh, yaitu struktur DNA oleh James Watson dan Francis Crick. Saat itu ada beberapa ilmuwan ternama lain yang sedang memecahkan masalah yang sama, termasuk Linus Pauling, yang kemudian meraih Nobel untuk karya lainnya.
Kalau terlalu banyak pengetahuan memang akan menghambat seseorang, Watson dan Crick semestinya menang karena paling sedikit terbebani informasi. Kenyataannya justru sebaliknya. Mereka bukan yang pertama menemukan setiap bagian dari teka-teki itu. Tim lain lebih dulu tahu bahwa heliksnya ganda, dan tim lain lagi lebih dulu tahu letak untaiannya. Tapi hanya Watson dan Crick yang memegang semua bagian itu sekaligus. Mereka tidak harus berpikir lebih baik daripada ilmuwan lain. Mereka hanya memiliki semua pengetahuan yang dibutuhkan, sementara yang lain tidak.
Bagaimana dengan temuan Simonton tentang pendidikan formal? Menurut Colvin, lamanya sekolah bukan ukuran yang baik untuk pengetahuan di sebuah bidang. Seorang doktor sastra punya pengetahuan luas tentang sejarah dan tafsir sastra, tapi itu bidang yang berbeda dari menciptakan karya sastra. Lagi pula, sebagian besar periode yang diteliti Simonton terjadi sebelum ilmu pengetahuan modern berkembang. Eksperimen takaran air pun sebenarnya tidak menunjukkan apa yang terjadi pada orang yang terlalu mendalami sebuah bidang. Yang diteliti justru orang yang baru sedikit mengenalnya.
Para inovator hebat tidak terbebani oleh pengetahuan; sebaliknya, mereka justru disuburkan oleh pengetahuan tersebut.
Inovasi Tumbuh dari Masa Lalu
Dari situ, Colvin membongkar anggapan bahwa karya-karya besar muncul tanpa pendahulu. Lukisan Les Demoiselles d'Avignon karya Picasso, yang dianggap lukisan terpenting abad kedua puluh, tampak sama sekali terputus dari karya sebelumnya. Tapi penelitian menunjukkan lukisan itu dibangun dari banyak pengaruh yang sudah lama diserap Picasso: patung Iberia kuno, seni Afrika dan Pasifik Selatan, hingga komposisi tertentu dalam lukisan Cézanne dan Matisse.
James Watt tidak menemukan mesin uap. Sudah banyak mesin uap sebelum ia mulai bekerja, termasuk mesin buatan Thomas Newcomen yang dipakai untuk memompa air dari tambang batu bara. Watt memperbaiki mesin Newcomen yang boros menjadi jauh lebih efisien, dan ia bisa melakukannya karena bertahun-tahun bekerja sebagai pembuat instrumen ilmiah. Eli Whitney juga tidak menemukan mesin pemisah biji kapas. Mesin seperti itu sudah ada, tapi hanya bekerja untuk jenis kapas tertentu. Whitney membuatnya bekerja untuk jenis kapas yang lebih umum ditanam.
Kisah-kisah eureka itu pun ternyata tidak benar. Versi awal puisi Coleridge ditemukan, dan menunjukkan bahwa puisi itu direvisi berkali-kali sebelum diterbitkan. Beberapa draf pidato Gettysburg ditemukan di atas kertas surat Gedung Putih. Kisah bak mandi Archimedes tidak didukung satu pun tulisan Archimedes sendiri maupun orang-orang sezamannya, dan para ahli menyimpulkan kisah itu hanyalah mitos.
Para peneliti kreativitas kini juga melihat kreativitas sebagai satu garis perkembangan yang utuh. Ia bermula dari tafsiran baru yang bermakna bagi diri sendiri, lalu berkembang menjadi karya yang diakui orang lain, dan pada akhirnya bisa menjadi karya besar yang mengubah sebuah bidang. Artinya, para inovator besar menjadi hebat dengan cara yang sama seperti orang lain menjadi hebat.
Membuat Organisasi Inovatif
Di bagian akhir bab, Colvin membawa pembahasan ini ke organisasi. Semua aturan dari bab sebelumnya tetap berlaku, ditambah beberapa hal khusus. Titik berangkatnya sederhana:
Karena organisasi sendiri tidaklah inovatif—hanya individulah yang inovatif—maka langkah paling efektif yang dapat diambil organisasi untuk membangun inovasi mencakup upaya membantu orang-orang memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka di bidangnya masing-masing.
Salah satu caranya adalah membangun jaringan inovasi di dalam organisasi, tempat orang-orang bisa saling bertukar cerita tentang masalah yang sedang mereka hadapi, cara yang sedang mereka coba, dan apa yang sudah mereka pelajari.
Hambatan terbesarnya adalah budaya yang tidak ramah pada ide baru. Sebuah survei McKinsey terhadap enam ratus eksekutif menemukan perbedaan pandangan yang mencolok. Para pemimpin puncak merasa perusahaan mereka kurang inovatif karena tidak punya orang yang tepat. Para manajer di level bawah melihatnya berbeda: orangnya sudah tepat, tapi budaya perusahaan menghalangi mereka berinovasi. Menurut Colvin, siapa pun yang pernah bekerja di sebuah organisasi tahu pihak mana yang lebih mungkin benar. Dan selama para pemimpin puncak merasa budayanya baik-baik saja, budaya itu tidak akan pernah berubah.
Dua langkah lain menurut Colvin sangat efektif. Pertama, menyampaikan dengan jelas inovasi seperti apa yang dibutuhkan. Benjamin Zander, dirigen Boston Philharmonic Orchestra, sering mengajak peserta seminar bisnis menyanyikan lagu ulang tahun untuk salah satu peserta. Semua langsung bernyanyi bersama tanpa perlu dipimpin. Lalu ia meminta mereka menyanyikannya sekali lagi, "tapi kali ini lebih baik". Ruangan langsung hening. Tidak ada yang tahu harus berbuat apa. Begitu pula dengan inovasi di perusahaan: menyuruh orang untuk "lebih inovatif" tanpa arah yang jelas hanya membuat mereka diam di tempat.
Kedua, memberi kebebasan untuk berinovasi. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa dalam tugas-tugas kreatif, imbalan dari luar justru bisa menurunkan kreativitas. Itu sebabnya perusahaan seperti 3M dan Google memberi karyawannya sepuluh sampai dua puluh persen waktu kerja untuk proyek apa pun yang mereka minati.
Ketika yang Disalahkan Adalah Orang
Temuan McKinsey itu terasa seperti cermin bagi keyakinan yang saya bawa sejak prolog. Para pemimpin puncak melihat masalahnya pada orang. Para manajer di bawahnya melihat masalahnya pada sistem dan budaya.
Kecenderungan menyalahkan orang ini sangat manusiawi, dan di HR pun sering terjadi. Ketika sesuatu tidak berjalan, pertanyaan pertama yang muncul biasanya: apakah kita sudah merekrut orang yang tepat? Pertanyaan itu tidak salah, tapi sering kali datang terlalu cepat. Jarang yang lebih dulu bertanya apakah orang-orang yang sudah ada diberi arah yang jelas, ruang untuk mencoba, dan kesempatan untuk mendalami bidangnya.
Kalau Colvin benar bahwa organisasi tidak inovatif, hanya orangnya yang inovatif, maka tugas organisasi bukan mencari orang kreatif, tetapi membangun sistem tempat orang-orang bisa menjadi kreatif.
Pengetahuan yang Lengkap
Kisah Watson dan Crick membuat saya memikirkan dua sisi pekerjaan saya, HR dan pemrograman. Mereka unggul bukan karena berpikir lebih cemerlang, tapi karena memegang semua bagian teka-teki sekaligus, sementara orang lain hanya memegang sebagian.
Di dunia kerja, banyak masalah HR yang sebenarnya bisa dibantu teknologi, dan banyak solusi teknologi yang gagal karena tidak memahami cara kerja HR. Orang HR memahami prosesnya, tapi belum tentu tahu apa yang mungkin dilakukan dengan teknologi. Programmer memahami teknologinya, tapi belum tentu memahami seluk-beluk proses HR. Mungkin di pertemuan dua pengetahuan itulah ruang inovasi terbuka, bukan dalam bentuk kilatan ilham, tapi dalam bentuk perbaikan-perbaikan kecil atas cara kerja yang sudah ada, seperti Watt memperbaiki mesin Newcomen.
Imbalan untuk Ide
Bagian tentang imbalan dan kreativitas juga menjadi catatan penting bagi saya sebagai orang yang lama berkecimpung di Compensation & Benefits. Ketika perusahaan ingin karyawannya lebih inovatif, reaksi pertama sering kali adalah membuat program hadiah: penghargaan untuk ide terbaik, bonus untuk usulan perbaikan, dan sejenisnya.
Colvin mengingatkan bahwa penelitian soal ini belum seragam, tapi ada indikasi bahwa imbalan dari luar justru bisa mengurangi kreativitas. Orang yang terdorong dari dalam untuk menciptakan sesuatu cenderung lebih kreatif daripada mereka yang melakukannya demi uang. Artinya, sistem imbalan untuk inovasi perlu dirancang dengan hati-hati. Bisa jadi yang lebih dibutuhkan bukan hadiah, melainkan arah yang jelas dan ruang yang cukup untuk mencoba, seperti pelajaran dari lagu ulang tahun Benjamin Zander.
Sebelum Bab Berikutnya
Bab ini memperluas argumen Colvin ke wilayah yang paling sering dianggap misterius. Kreativitas pun ternyata tumbuh dengan cara yang sama seperti kehebatan di bidang lain: lewat bertahun-tahun mendalami sebuah bidang, membangun pengetahuan, dan terus mendorong diri melampaui batas.
Di tulisan terakhir seri ini, kita akan membahas dua pertanyaan yang tersisa. Seberapa dini latihan perlu dimulai, dan apakah usia menjadi batas? Lalu pertanyaan yang sudah saya simpan sejak tulisan pertama: dari mana datangnya kemauan untuk terus berlatih?
Sebelum itu, coba ingat satu ide yang pernah Anda anggap datang tiba-tiba. Kalau ditelusuri ke belakang, berapa lama sebenarnya ide itu tumbuh sebelum muncul?
Seri Talent Is Overrated
- Prolog: Bakat, atau Latihan?
- #1 Mitos Bernama Bakat
- #2 Seberapa Cerdas yang Sebenarnya Dibutuhkan?
- #3 Bekerja Tidak Sama dengan Berlatih
- #4 Apa yang Berubah dalam Diri Seorang Ahli
- #5 Menerapkannya dalam Keseharian
- #6 Menerapkannya dalam Organisasi
- #7 Inovasi Bukan Kilatan Ilham (tulisan ini)
- #8 Usia, dan dari Mana Gairah Datang
Daftar Isi
Other Writings
20 Okt 2026Talent Is Overrated #8: Usia, dan dari Mana Gairah Datang
Review Bab 10–11 Talent Is Overrated: peran usia, lingkungan, dan dari mana gairah untuk terus berlatih berasal. Penutup seri dengan refleksi dari dunia HR.
16 Okt 2026Talent Is Overrated #6: Menerapkannya dalam Organisasi
Review Bab 8 Talent Is Overrated: delapan cara organisasi terbaik mengembangkan orang, membangun tim, dan budaya umpan balik, serta refleksinya dari kacamata HR.
14 Okt 2026Talent Is Overrated #5: Menerapkannya dalam Keseharian
Review Bab 7 Talent Is Overrated: cara menerapkan deliberate practice dalam pekerjaan, dari metode menulis Benjamin Franklin hingga kebiasaan sebelum, selama, dan sesudah bekerja.